PALI – Suasana Hari Raya Idul Fitri 2026/1447 H di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) terasa berbeda. Di tengah gema takbir yang masih menggema dan aroma hidangan khas yang menghangatkan setiap rumah, ada harapan baru yang perlahan tumbuh.
Harapan tentang persatuan, tentang melangkah bersama demi masa depan Kabupaten PALI yang lebih maju.
Momentum itu hadir dari rencana pertemuan yang sederhana namun sarat makna yakni, silaturahmi antara dua tokoh penting daerah, Asgianto, Bupati PALI periode 2024–2029, dan Heri Amalindo, sosok yang pernah memimpin PALI selama dua periode sebelumnya.
Kedua tokoh sentral yang belakangan ini lebih sering berada di jalur berbeda, dengan pandangan politik yang tak selalu searah, kini dipertemukan oleh semangat Lebaran. Semangat memaafkan dan membuka lembaran baru.
Wakil DPRD PALI, Firdaus Hasbullah, menilai bahwa momentum Lebaran menjadi ruang yang tepat untuk merajut kembali komunikasi politik yang lebih konstruktif.
“Masyarakat PALI tentu tidak asing dengan dinamika yang pernah terjadi. Perbedaan pilihan, strategi, hingga visi pembangunan sempat menciptakan jarak di antara keduanya”, katanya (21/3/26).
Lebih lanjut menurut Firdaus, waktu telah mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terus bersekat. Justru dari perbedaan itulah, jika disatukan, bisa lahir kekuatan besar untuk membangun. Pertemuan yang akan digelar di hari penuh berkah itu, bukan sekadar seremoni saling berjabat tangan.
“Ini adalah simbol rekonsiliasi, sebuah langkah berani untuk meninggalkan ego, merajut kembali komunikasi, dan menempatkan kepentingan masyarakat di atas segalanya”, ujar Firdaus.
Firdaus menekankan, bagi masyarakat PALI, ini bukan hanya tentang dua tokoh. Ini tentang arah masa depan daerah.
“Ketika pengalaman panjang Heri Amalindo bertemu dengan energi dan visi baru Asgianto, terbuka peluang besar untuk menciptakan sinergi yang lebih kuat”, tegasnya.
Ia menjelaskan, bahwa program-program pembangunan yang telah dirintis dapat dilanjutkan dan disempurnakan, sementara inovasi baru bisa tumbuh tanpa harus terhambat oleh sekat masa lalu.
“Lebaran selalu mengajarkan arti kembali ke fitrah. Dalam konteks ini, fitrah itu adalah persatuan”, ujarnya.
Dan ketika dua tokoh yang pernah berseberangan memilih untuk duduk bersama, tersenyum, dan saling memaafkan, maka sesungguhnya mereka sedang memberikan teladan bagi seluruh masyarakat:
“Bahwa membangun daerah tidak bisa dilakukan sendiri, apalagi dengan membawa beban perpecahan,” pungkasnya.
Rekonsiliasi ini diharapkan menjadi titik balik. Bukan hanya mempererat hubungan personal, tetapi juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, dengan melibatkan semua elemen masyarakat, tanpa memandang latar belakang politik.
Karena pada akhirnya, PALI yang maju bukanlah hasil kerja satu orang, melainkan hasil kebersamaan.
Dan mungkin, di hari itu, saat tangan-tangan saling berjabat dan senyum tulus terukir, masyarakat PALI menyadari satu hal penting: bahwa masa depan yang lebih baik selalu dimulai dari keberanian untuk berdamai.
![]()
