5.360 Anak Keracunan, Program MBG Jadi Momok Menakutkan bagi Orang Tua

JAKARTA – Alih-alih membawa harapan baru bagi perbaikan gizi anak bangsa, program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi momok menakutkan bagi para orang tua dan wali murid. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat, sejak diluncurkan 6 Januari 2025 lalu, sebanyak 5.360 anak di berbagai daerah menjadi korban keracunan usai mengonsumsi menu MBG.

Program unggulan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), kembali menuai sorotan tajam. Hingga pertengahan September 2025, sedikitnya 5.360 anak dilaporkan mengalami keracunan usai mengonsumsi menu MBG di berbagai daerah. Data itu dirilis oleh Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) dalam siaran pers terbaru, Kamis (18/9).

Menurut JPPI, angka tersebut kemungkinan besar masih jauh dari jumlah sebenarnya. Lembaga ini menduga ada sekolah, pemerintah daerah, bahkan aparat yang menutup-nutupi kejadian demi menjaga citra program nasional tersebut.

“Kalau hanya terjadi satu atau dua kasus, mungkin bisa dianggap kelalaian teknis. Tapi ini ribuan anak di banyak daerah. Ini jelas kesalahan sistemik dan bukti gagalnya tata kelola MBG yang dikoordinasikan Badan Gizi Nasional (BGN),” tegas pernyataan JPPI.

“Presiden dan BGN tidak boleh lagi hanya mengandalkan jargon ‘zero incident’, sementara fakta di lapangan menunjukkan tragedi berulang. Ini darurat kemanusiaan nasional,” lanjut mereka.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengakui salah satu penyebab utama insiden keracunan adalah ketidaksiapan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang baru beroperasi. Ia menyarankan agar dapur MBG yang baru mulai berjalan melayani sekolah secara bertahap, agar beban produksi ribuan porsi tidak langsung memicu kesalahan fatal.

Namun, desakan publik kian menguat. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bahkan mencatat lebih dari 4.000 kasus keracunan selama delapan bulan pertama pelaksanaan program ini. Selain keracunan, ditemukan pula menu MBG yang tidak sesuai standar gizi, kualitas buruk, hingga kelayakan penyajian yang dipertanyakan.

Gelombang kritik pun berujung pada desakan penghentian program. Sejumlah aktivis pendidikan, LSM kesehatan, hingga organisasi orang tua murid mendesak Presiden Prabowo menghentikan sementara program MBG sampai ada evaluasi menyeluruh.

“Program makan gratis seharusnya menyelamatkan anak bangsa dari stunting, bukan membuat mereka terbaring di rumah sakit,” sindir salah satu aktivis pendidikan.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *