PALEMBANG — Ketua Umum Forum Aspirasi dan Kepedulian Rakyat (Fakar) Indonesia, Aka Cholik Darlin, menilai permintaan maaf Badan Gizi Nasional (BGN) terkait maraknya kasus keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum menyentuh akar persoalan.
Menurut Cholik, langkah BGN yang menyatakan bertanggung jawab penuh dan menjanjikan pembiayaan bagi para korban patut dihargai. Namun, ia menekankan bahwa hal itu tidak boleh berhenti pada sebatas permintaan maaf, melainkan harus dilanjutkan dengan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyelenggaraan program.
“Kami memahami permintaan maaf Ibu Wakil Kepala BGN disampaikan dengan tulus. Tetapi ini harus menjadi momentum perbaikan total. Jangan sampai kasus serupa kembali terulang, apalagi menyangkut anak-anak yang merupakan masa depan bangsa,” ujar Cholik, Sabtu (27/9).
Per 25 September 2025, BGN mencatat 5.914 orang mengalami apa yang disebut sebagai insiden keamanan pangan. Dari jumlah tersebut, tidak semuanya keracunan, sebagian juga disebabkan alergi makanan maupun faktor lain.
Cholik menilai keputusan BGN menutup 40 Sentra Penyedia Program Gizi (SPPG) merupakan langkah penting, namun ia mengingatkan agar pemerintah memastikan sejak awal seluruh mitra program benar-benar memenuhi syarat kelayakan, termasuk Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS), sertifikat halal, serta sertifikat air layak konsumsi.
“Program MBG adalah program nasional yang sangat baik, tetapi jangan dijalankan dengan tergesa-gesa. Prinsip kehati-hatian harus dikedepankan, karena yang dipertaruhkan adalah kesehatan masyarakat luas,” imbuhnya.
Ia juga mendorong adanya transparansi dalam perbaikan sistem, mulai dari rantai distribusi hingga pengawasan di lapangan. Menurutnya, keterbukaan informasi akan memperkuat kembali kepercayaan publik terhadap program MBG.
“Tujuan mulia dari program ini jangan sampai tercoreng hanya karena lemahnya pengawasan. Kita semua ingin anak-anak Indonesia sehat, cerdas, dan mendapat gizi yang layak,” pungkas Cholik.
![]()
