Bupati Asgianto Apresiasi Peran Sri Kustina Sukses Angkat Kuliner Khas PALI “Sagarurung”

PALI — Bupati PALI, Asgianto, ST., menegaskan komitmennya dalam mendorong penguatan UMKM, pengembangan kuliner khas daerah seperti ikan sagarurung yang dinilai memiliki potensi besar sebagai produk unggulan sekaligus ikon ole-ole kuliner khas daerah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Hal itu disampaikan dalam rapat paripurna DPRD PALI yang membahas empat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah (Perda) pada Senin (6/4/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Asgianto turut menyoroti peran Hj. Sri Kustina, mantan Ketua TP PKK PALI, yang dinilai berhasil membranding kuliner ikan “sagarurung” dari level lokal hingga dikenal di tingkat nasional.

“Kalau kita ingat, dulu Ibu Sri Kustina membranding ikan sagarurung ini sangat luar biasa. Sekarang sudah dikenal di mana-mana,” ujar Asgianto.

Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi fondasi penting yang harus dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah.

“Tugas kita sama-sama menjaga, ini sudah menjadi ikon kebanggaan kita,” tegasnya.

Asgianto juga menekankan bahwa sagarurung harus terus didorong sebagai oleh-oleh khas PALI. Untuk itu, diperlukan kerja sama dan kolaborasi yang solid antar pemangku kepentingan, termasuk pelaku UMKM.

Ia bahkan menginstruksikan agar produk tersebut selalu hadir dalam berbagai kegiatan resmi daerah terkhusus pada acara HUT Kabupaten PALI.

“Saya sudah pesan dengan pak Sekwan, nanti pada HUT PALI, goodie bag jangan sampai melewatkan ikan sagarurung,” pungkasnya.

Sagarurung sendiri merupakan kuliner tradisional khas Desa Tanjung Kurung, Kecamatan Abab, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2021. Kuliner ini memiliki akar sejarah yang kuat, bermula dari pemanfaatan hasil ikan zaman dahulu melimpah di Sungai Abab.

Di tangan pelaku UMKM, sagarurung tidak hanya dipertahankan sebagai warisan kuliner, tetapi juga terus dikembangkan tanpa meninggalkan keasliannya.

Transformasi sagarurung dari makanan tradisional menjadi produk UMKM unggulan menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *