Festival Candi Bumi Ayu 2025: Mengukur Animo Masyarakat PALI di Panggung Budaya

PALI – Festival Candi Bumi Ayu 2025 yang digelar selama tiga hari 21 sampai 24 November 2025 di Gelora November Pendopo menghadirkan fenomena sosial yang menarik. Ribuan warga dari berbagai wilayah memadati area festival, menegaskan tingginya animo masyarakat khususnya kalangan anak muda, komunitas lokal, dan pecinta budaya serta memperlihatkan bahwa kebutuhan akan hiburan publik di Kabupaten PALI masih sangat kuat.

Lonjakan pengunjung di setiap rangkaian acara bukan sekadar bagian dari kemeriahan, tetapi menjadi indikator yang menegaskan bahwa masyarakat PALI haus akan hiburan yang menjadi kebutuhan sosial. Fenomena itu terpantau sejak pembukaan hingga penutupan festival, di mana perilaku kolektif warga menunjukkan antusiasme yang stabil dan konsisten.

Keikutsertaan berbagai kelompok mulai dari pelajar, keluarga, komunitas kreatif, hingga generasi senior menggambarkan bahwa ruang hiburan dan ekspresi publik di PALI sangat di harapkan. Setiap kali hadir event berskala besar, masyarakat langsung menyambutnya dengan antusias luar biasa.

Puncak antusiasme terjadi pada malam penutupan yang menampilkan band ibu kota Batas Senja serta N’Dar Boy. Meski Gelora November memiliki kapasitas besar, area tersebut tetap dipadati warga yang ingin menikmati hiburan musik, menandakan kerinduan mendalam masyarakat terhadap event publik yang lebih rutin dan lebih berkualitas.

Pada pembukaan festival, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan pentingnya event budaya sebagai sarana pelestarian sejarah sekaligus penguatan kebanggaan daerah.

“Malam hari ini kita melihat sebuah keistimewaan, yakni PALI memperkenalkan Candi Bumi Ayu. Bukan hanya kita mendapatkan hiburan tetapi kita mendapatkan literasi budaya,” katanya (21/11/25)

Menurutnya, masyarakat PALI yang dikenal begitu ramah dan cinta terhadap kearifan lokal meskipun serangan modernisasi yang begitu kuat. Tetapi ia optimis dengan memperkenalkan hal hal yang sederhana seperti memperkenalkan. Wastra menegaskan bahwa kita ini memiliki aset tak berbenda yang tidak kalah dengan belahan dunia.

Antusiasme masyarakat merupakan bukti nyata bahwa ruang-ruang hiburan dan kegiatan budaya harus diperbanyak. Warga PALI tidak hanya membutuhkan tontonan, tetapi juga ruang berekspresi dan wadah berkumpul yang mampu menghidupkan kembali dinamika sosial.

Dari sudut pandang sosial, Festival Candi Bumi Ayu menjadi momentum penting pemulihan interaksi publik setelah minimnya kegiatan hiburan besar di PALI. Banyak warga memanfaatkan festival sebagai ruang bertemu, berinteraksi, serta merayakan kembali identitas budaya daerah, terutama generasi muda.

Selama empat hari festival, pola antusiasme tidak surut. Pada hari pertama, pembukaan yang menghadirkan Ghea Indrawari yang menarik pengunjung dengan jumlah yang sangat besar. Hari kedua kembali ramai dengan lomba tari tingkat provinsi dan kompetisi band pelajar.

Sementara hari ketiga di kawasan Candi Bumi Ayu memperlihatkan tingginya minat masyarakat terhadap aktivitas budaya seperti mencanting batik dan talkshow batik PALI.

Hal ini menegaskan bahwa masyarakat PALI tidak hanya tertarik pada hiburan modern, tetapi juga memiliki kecintaan tinggi terhadap seni dan budaya.

Dampak positif juga terlihat dari geliat UMKM. Pemerintah daerah mencatat ada perputaran ekonomi seiring banyaknya pelaku UMKM yang ikut meramaikan festival, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, hingga produk budaya lokal.

Menanggapi besarnya animo masyarakat, Bupati PALI Asgianto memastikan bahwa Festival Candi Bumi Ayu akan ditetapkan sebagai agenda tahunan daerah.

“Festival ini bukan hanya mengangkat situs sejarah, tetapi juga warisan peradaban dan identitas masyarakat PALI,” katanya.

Ia menyebut rangkaian festival tahun ini lebih meriah dengan seni pertunjukan, talkshow budaya, dan pameran UMKM. Asgianto menambahkan bahwa festival memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Para pelaku usaha, khususnya UMKM, mendapatkan ruang promosi yang luas serta peluang memperkenalkan produk unggulan mereka.

Pada akhirnya, Festival Candi Bumi Ayu 2025 menyimpulkan satu hal penting, masyarakat PALI membutuhkan lebih banyak ruang hiburan, interaksi budaya, serta event besar yang mendorong kreativitas sekaligus memperkuat rasa kebersamaan.

Event seperti ini bukan hanya hiburan, tetapi juga ruang tumbuhnya identitas, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat PALI.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *