PALI — Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menegaskan bahwa Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) kini bukan lagi daerah yang asing di peta perlintasan Sumatera. Hal itu disampaikannya dalam pidato pada rapat paripurna istimewa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 Kabupaten PALI, Rabu (22/4/26).
Dalam sambutannya, Herman Deru mengenang kondisi masa lalu ketika akses menuju PALI masih terbatas. Ia menyebut, pada waktu itu, masyarakat harus benar-benar meluangkan waktu khusus untuk dapat mencapai wilayah tersebut.
“Dulu orang mau ke PALI harus sengaja meluangkan waktu. Sekarang siapa yang tak kenal PALI,” ujarnya.
Menurutnya, seiring perkembangan infrastruktur dan konektivitas wilayah, PALI kini menjelma menjadi salah satu daerah yang cukup sentral. Posisi strategis ini menjadikan PALI sebagai jalur lintasan penting bagi masyarakat dari berbagai daerah, baik di Sumatera maupun dari Pulau Jawa.
Ia mencontohkan arus pelintas yang kini kerap melewati wilayah PALI, mulai dari arah Lubuk Linggau, Bengkulu, Jambi hingga dari Pulau Jawa.
Fenomena tersebut, kata Herman Deru, bahkan dapat diamati dari hal sederhana di media sosial. Ia mengaku kerap memantau aktivitas warganet, termasuk unggahan pedagang bakso di PALI yang menunjukkan keberagaman pengunjung dari luar daerah, bahkan hingga pejabat yang singgah.
“Ini keberkahan pak. Tapi kita dituntut tanggungjawabnya, bagaimana kita membuat orang yang melewati daerah ini merasa nyaman,” tegasnya.
Herman Deru mengungkapkan sejalan dengan waktu Kabupaten PALI sudah cukup pesat perkembangannya menjadi daerah perlintasan.
“Makanya harus cantik, aku bilang Samo bupati bagaimana pedagang tidak terganggu buatkan jalan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Herman Deru kembali menegaskan bahwa kondisi ini bukanlah sekadar klaim tanpa dasar. Ia memastikan bahwa perkembangan PALI merupakan bagian dari visi besar yang telah lama ia rancang. Sejak awal, lanjutnya, ia memiliki cita-cita untuk menjadikan Bumi Serapat Serasan sebagai kawasan “segitiga emas” di Sumatera Selatan.
“Ini bukan bualan kosong yang disebut cita cita besar gubernur dan bupati dari zaman Pak Heri Amalindo, sekarang di sambut jadi tekad bersama Bupati Asgianto, “Segitiga Emas”,” tegasnya.
Menurutnya, konsep tersebut menempatkan PALI sebagai simpul strategis yang menghubungkan berbagai wilayah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi regional.
Dengan letak geografis yang dinilai strategis serta dukungan pembangunan infrastruktur yang terus berjalan, PALI diyakini mampu menjadi pusat pergerakan ekonomi baru, sekaligus daerah singgah yang kian diperhitungkan.
![]()
